DAMPAK PERUBAHAN PSAK 24 REVISI 2013 – TERHADAP PERUSAHAAN

Gemmaaaktuaria.com

PSAK 24 revisi 2013 sudah diterbitkan dan akan berlaku efektif mulai tahun 2015. Perubahan tersebut mempengaruhi pengukuran, penyajian dan pengungkapan imbalan pascakerja. Perusahaan harus menghitung ulang liabilitas imbalan pascakerja berdasarkan standar baru. Dampak perubahan ini akan mempengaruhi penyajian nilai ekuitas dan liabilitas dalam laporan posisi keuangan. Ketentuan pengungkapan lebih banyak dan lebih lengkap sehingga pengguna dapat lebih mudah menilai imbalan manfaat pasti.

PSAK 24 revisi 2013 telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada 19 Desember 2013. PSAK baru ini merivisi PSAK 24 revisi 2010. Sejak tahun 1994 dengan nama PSAK 24 Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun, PSAK ini telah berubah 3 kali yaitu tahun 2006, 2010 dan terakhir 2013. Perubahan PSAK 24 dilakukan karena terjadi perubahan dan revisi atas IAS 19 Employee Benefit. Sebagai konsekuensi, Indonesia mengadopsi IFRS, maka setiap terjadi perubahan IFRS/IAS akan dilakukan perubahan terhadap PSAK terkait. Terdapat dua perbedaan IAS 19 dengan PSAK 24 yaitu tentang tanggal efektif dengan meniadakan penerapan dini dan tentang amandemen penghilangan paragrap IAS19. Penghilangan penerapan dini dihilangkan untuk menjaga keselarasan dengan PSAK lain yang terkena dampak. Untuk perbedaan ekdua tidak diadopsi karena tidak relevan dengan PSAK.

Terdapat tiga perubahan pokok dalam PSAK 24 revisi 2014 yaitu cara perhitungan beban pensiun, pengakuan keuntungan dan kerugian aktuaria serta pengkungkapan. Perubahan tersebut akan mempengaruhi secara signifikan nilai kewajiban imbalan pascakerja yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Pengakuan keuntungan dan kerugian aktuaria sebagai komponen pendapatan komprehensif secara signifikan akan mempengaruhi total ekuitas perusahaan. Pengungkapan dibuat lebih komprehensif dengan menjelaskan karakteristik, jumlah yang timbul dari program dalam laporan keuangan dan analisis sensitifitas atas program imbalan pasti.

Beban pensiun yang akan diakui dalam laba rugi menurut PSAK 24 revisi 2013 dihitung dari beban jasa kini, jasa lalu, keuntungan dan kerugian penyelesaian dan bunga neto atas liabilitas (aset) imbalan pasti neto. Dalam PSAK revisi 2010 komponen beban pensiun adalah biaya jasa kini, biaya jasa lalu, amortisasi keuntungan atau kerugian aktuaria (jika melebihi koridor), bunga dan hasil yang diharapkan dari aset program, serta dampak dari kurtailmen atau penyelesaian program. Ada dua hal yang hilang dari PSAK 24 revisi 2010 yaitu amortisasi keuntungan atau kerugian aktuaria dan hasil yang diharapkan dari aset program.

Bunga atas liabilitas manfaat pasti akan diimbangi dengan estimasi hasil investasi dari aset program. Pada PSAK 24 revisi 2010 keduanya dihitung secara terpisah. Untuk bunga menggunakan tingkat suku bunga surat utang berkualitas baik sedangkan untuk hasil investasi menggunakan estimasi hasil investasi atas aset program. Pada PSAK 24 revisi 2013, bunga neto dihitung dengan mengalikan liabilitas (aset) inbalan pasti neto dengan tingkat diskonto. Hasil investasi dan beban bunga dihitung dengan menggunakan satu tingkat diskonto yaitu suku bunga surat utang yang berkualitas baik. Sehingga beban bunga akan dihitung dari tingkat diskonto dikalikan nilai liabilitas imbalan pasti. Hasil investasi dihitung dengan tingkat diskonto dikalikan dengan aset imbalan pasti. Sehingga dampaknya terhadap beban pensiun akan timbul beban bunga neto yaitu diskonto dikalikan dengan nilai neto liabilitas atau aset imbalan pasti .

Penggunaan satu tingkat diskonto mengurangi ketidakpastian estimasi hasil invesasi. Potensi penggunaan nilai estimasi yang bias untuk memenuhi tujuan pelaporan oleh manajemen dapat dihindari dengan penggunaan satu tingkat diskonto. Untuk menghindari beban imbalan kerja manajemen dapat meningkatkan nilai estimasi hasil investasi. Penggunaan bunga neto akan menjadikan beban bunga dan hasil investasi dipandang sebagai satu kesatuan portfolio investasi.

Perubahan kedua yang berdampak signifikan adalah pengakuan kerugian atau keuntungan aktuarial sebagai komponen penghasilan komprehensif lainnya. Dalam PSAK revisi 2010, keuntungan dan kerugian aktuarial sampai pada batas koridor akan diakui menambah atau mengurangi liabilitas imbalan kerja. Nilai di atas koridor akan diamortisasi selama rata-rata sisa masa kerja karyawan dan diakui sebagai komponen beban pensiun dalam laporan laba rugi. Koridor yang digunakan adalah sepuluh persen dari nilai liabilitas atau aset imbalan pasti mana yang lebih tinggi.

Dampak dari perubahan tersebut akan mempengaruhi beban pensiun dalam laba rugi karena dalam laba rugi, tidak ada komponen amortisasi keuntungan dan kerugian aktuaria. Jika perusahaan memiliki keuntungan aktuaria amortisasi keuntungan aktuaria akan berdampak mengurangi biaya pensiun. Cara perhitungan bunga dengan menggunakan bunga netto juga mengurangi kompleksitas penghitungan beban pensiun. Beban pensiun terdiri dari biaya jasa kini, biaya jasa lalu (jika ada) ditambah bunga netto dan atas penyelesaian.

Nilai liabilitas imbalan kerja akan berubah karena keuntungan dan kerugian aktuaria yang semula disajikan sebagai komponen penentu nilai liabilitas imbalan pasti sekarang disajikan sebagai komponen ekuitas. Sebagai contoh perusahaan memiliki liabilitas imbalan pasti 30.000, aset program imbalan pasti 24.000 keuntungan aktuaria sebesar 2.000. Dengan menggunakan PSAK 24 revisi 2010, liabilitas imbalan pasti akan disajikan sebesar 30.000 – 24.000 + 2.000 = 8.000. Berdasarkan PSAK 24 revisi 2013, nilai liabilitas imbalan pasti sebesar 6.000 dan penghasilan komprehensif lain – keuntungan aktuaria sebesar 2.000. Terjadi pengurangan liabilitas manfaat pasti sebesar 2.000 dan kenaikan ekuitas sebesar 2.000. Secara total aset tidak berdampak namun akan mempengaruhi komposisi liabilitas dan ekuitas. Dampak tersebut akan terbalik jika perusahaan memiliki kerugiaan aktuaria yaitu terjadi peningkatan liabilitas dan pengurangan ekuitas.

Untuk perusahaan yang memiliki saldo keuntungan aktuaria, perubahan PSAK 24 akan meningkatkan ekuitas perusahaan dan mengurangi liabilitas. Dampak ini akan meningkatkan solvabilitas perusahaan karena jumlah utang yang semakin sedikit dan ekuitas yang semakin besar. Sebaliknya untuk perusahaan yang memiliki saldo kerugian aktuaria PSAK 24 revisi 2013 akan berdampak pada peningkatan liabilitas dan pengurangan ekuitas. Tingkat solvabilitas perusahaan akan semakin menurun karena ekuitas yang semakin berkurang. Namun untuk rasio efisiensi return on equity justru terlihat perusahaan semakin efisien karena ekuitas yang berkurang. Dampak perubahan ini harus hati-hati dalam menganalisis laporan keuangan tahun 2015 nanti. Perubahan ini dapat juga dilihat relevansinya terhadap pengambilan keputusan investor di pasar modal. Perlu dilakukan kajian apakah investor terpengaruh dalam menentukan keputusan investasi dengan perubaha PSAK 24 ini.

Perubahan signifikan juga terjadi pada pengungkapan, dengan menambahkan informasi pengungkapan yang lebih banyak dan lengkap. Pengungkapan yang ditambahkan adalah risiko yang timbul dari program imbalan pasti. Dalam pengungkapan dirinci karakteristik progam imbalan pasti dan risiko terkait. Informasi yang diungkapkan meliputi karakteristik imbalan pasti, eksposur risiko program terhadap entitas dan deskripsi lainnya. Entitas juga harus mengungkapkan rekonsiliasi saldo awal dan sldo akhir dari liablitas (aset) imbalan dengan menunjukkan rekonsiliasi terpisah atas aset program, nilai kini kewajiban imbalan pasti, dampak batas atas aset serta hak penggantian. Entitas juga harus melakukan pemisahan nilai wajar aset program berdasarkan sifat dan risiko sesuai dengan PSAK 68 : Nilai Wajar. Entitas juga harus menyajikan dampak atas jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa dengan. Pengungkapan tersebut berisikan analisis sensitivitas atas asumsi aktuaria, metode dan asumsi yang digunakan dalam analisis, perubahan dari periode sebelumnya, deskripsi strategi untuk memadankan aset dan liabilitas, deskripsi setiap pengaturan dan kebijakan pendanaan, iuran dan informasi mengenai porfil jatuh tempo kewajiban.

Revisi lain juga dilakukan untuk definisi imbalan kerja jangka pendek. Sebelum perubahan definisinya adalah imbalan kerja yang akan jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah akhir pelaporan, dirubah menjadi imbalan yang diharapkan akan diselesaikan seluruhnya sebelum dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan. Dalam definisi tersebut memasukan unsur intensi dengan menambahkan diharapkan. Perubahan lainnya juga terjadi pada pesangon, definisi penyelesaian program, akuntansi untuk pajak terutang program dan akuntansi untuk biaya administrasi.

Revisi PSAK 24 akan berdampak pada reklasifikasi dan penyajian sehingga perusahaan harus menerapkannya secara retrospektif dengan menggunakan metode baru. Dalam transisi disebutkan bahwa PSAK ini berlaku secara retrospektif, kecuali untuk penyesuaian nilai aset dan analisis sensitivitas. Akibat perubahan ini perusahaan akan menyajikan laporan posisi keuangan tiga tahun komparatif yaitu tahun 2015, komparasi tahun 2014 dan awal periode 2014. (sumber : staff.blog.ui.ac.id/martani)